NYAMUK
AYAT :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
QS. Al Baqarah, 26 : Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.
Tafsir Jalalayn : Untuk menolak perkataan orang-orang Yahudi, "Apa maksud Allah menyebutkan barang-barang hina ini", yakni ketika Allah mengambil perbandingan pada lalat dalam firman-Nya, "... dan sekiranya lalat mengambil sesuatu dari mereka" dan pada laba-laba dalam firman-Nya, "Tak ubahnya seperti laba-laba," Allah menurunkan: (Sesungguhnya Allah tidak segan membuat) atau mengambil (perbandingan) berfungsi sebagai maf`ul awal atau obyek pertama, sedangkan (apa juga) kata penyerta yang diberi keterangan dengan kata-kata yang di belakangnya menjadi maf`ul tsani atau obyek kedua hingga berarti tamsil perbandingan apa pun jua. Atau dapat juga sebagai tambahan untuk memperkuat kehinaan, sedangkan kata-kata di belakangnya menjadi maf`ul tsani (seekor nyamuk) yakni serangga kecil, (atau yang lebih atas dari itu) artinya yang lebih besar dari itu, maksudnya Allah tak hendak mengabaikan hal-hal tersebut, karena mengandung hukum yang perlu diterangkan-Nya. (Ada pun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa ia), maksudnya perumpamaan itu (benar), tepat dan cocok dengan situasinya (dari Tuhan mereka, tetapi orang-orang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini sebagai perumpamaan?") Matsalan atau perumpamaan itu berfungsi sebagai tamyiz hingga berarti dengan perumpamaan ini. 'Ma' yang berarti 'apakah' merupakan kata-kata pertanyaan disertai kecaman dan berfungsi sebagai mubtada atau subyek. Sedangkan 'dza' berarti yang berikut shilahnya atau kata-kata pelengkapnya menjadi khabar atau predikat, hingga maksudnya ialah 'apa gunanya?' Sebagai jawaban terhadap mereka Allah berfirman: (Allah menyesatkan dengannya), maksudnya dengan tamsil perbandingan ini, (banyak manusia) berpaling dari kebenaran disebabkan kekafiran mereka terhadapnya, (dan dengan perumpamaan itu, banyak pula orang yang diberi-Nya petunjuk), yaitu dari golongan orang-orang beriman disebabkan mereka membenarkan dan mempercayainya (Tetapi yang disesatkan-Nya itu hanyalah orang-orang yang fasik), yakni yang menyimpang dan tak mau menaati-Nya.
KISAH :
1. Akhir Kisah Si Raja Namrud yang Angkuh di Tangan Nyamuk
Allah SWT berfirman, “Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan. Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya, Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada Orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 258).
Allah menyebut kisah perdebatan kekasih-Nya bersama seorang raja lalim dan semena-mena yang mengaku tuhan. Ibrahim kemudian mematahkan argumennya, menjelaskan begitu bodohnya dia, dan begitu dangkal akalnya. Ibrahim mengalahkannya dengan hujah, dan menjelaskan jalan terang padanya.
Para ahli tafsir, ahli nasab dan sejarah menyebutkan, raja yang dimaksud adalah Raja Babilon, namanya Namrud bin Kan’an bin Kausy bin Sam bin Nuh, seperti yang disampaikan Mujahid. Yang lain menyebut Namrud bin Falih bin Abir bin Shalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh.
Imam Mujahid dan lainnya menyebutkan, “Ia adalah salah seorang raja dunia. Karena seperti yang disebutkan para ahli, hanya ada empat raja besar di dunia; dua di antaranya mukmin, dan dua lainnya kafir. Dua raja besar yang beriman adalah Dzul Qarnain dan Sulaiman, sementara dua raja besar yang kafir adalah Namrud dan Bukhtanashar.”
Para ahli menyebutkan, kekuasaan Namrud berlangsung selama 400 tahun. Ia bertindak semena-mena dan melampaui batas, serta lebih mementingkan kehidupan dunia.
Ketika Ibrahim Al-Khalil menyeru Namrud untuk beribadah kepada Allah semata yang tiada memiliki sekutu, kedunguan, kesesatan dan panjangnya angan Namrud mendorongnya untuk mengingkari Sang Pencipta. Namrud mendebat Ibrahim dalam hal itu, bahkan mengklaim dirinya tuhan. Saat Ibrahim Al-Khalil mengatakan, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,’orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’."
Qatadah, As-Suddi, dan Muhammad bin Ishaq menafsirkan, "Maksudnya, dua orang didatangkan, keduanya sudah dijatuhi hukuman mati sebelumnya. Namrud kemudian memerintahkan untuk membunuh salah satunya, dan memaafkan yang satunya lagi. Dengan tindakannya ini, ia seakan-akan menghidupkan salah satunya, dan membunuh yang satunya lagi.”
Kata-kata Namrud ini sama sekali tidak menentang hujah Ibrahim, justru menyimpang dari inti perdebatan, menimbulkan kekacauan, dan jauh dari kenyataan. Jelasnya demikian, Ibrahim menyebut adanya Pencipta dengan bukti adanya sebagai makhluk hidup dan mati yang bisa dilihat. Semua itu menunjukkan adanya pelaku utama (causa prima) di mana segala sesuatu bersandar pada-Nya dan tidak bisa berdiri sendiri. Pasti ada Pelaku terhadap semua makhluk yang ada. Pelaku yang menciptakan, mengatur, menjalankan bintang-bintang, angin, awan, hujan, menciptakan seluruh hewan yang bisa dilihat secara kasat mata, kemudian setelah itu mematikan semuanya. Karena itu Ibrahim mengatakan, "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.”
Si raja dungu menjawab, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Jika yang dimaksud bahwa dialah pelaku semua makhluk yang ada, berarti ia sombong dan membangkang. Dan jika yang dimaksud seperti yang dikatakan Qatadah, As-Suddi,dan Muhammad bin Ishaq,berarti si raja dungu tersebut mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kata-kata Ibrahim, karena sama sekali tidak membantah bagian pembuka, juga tidak menentang dalil yang disampaikan Ibrahim.
Namun karena kekeliruan argumen si raja dungu ini mungkin tidak dipahami banyak orang yang hadir ataupun yang lain, Ibrahim menyebut dalil lain yang menjelaskan keberadaan Pencipta, meruntuhkan klaim Namrud, dan mengalahkan argumennya dengan jelas;
“Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya, Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’.” (Al-Baqarah: 258). Yaitu, matahari diatur setiap hari, terbit dari timur seperti yang diatur Pencipta, Penggerak, dan Penguasanya, Dialah Yang tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan sebenarnya) selain-Nya, Pencipta segala sesuatu. Jika kau bisa menghidupkan dan mematikan seperti yang kau katakan, maka terbitkan matahari dari barat, karena Dzat yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang berbuat apa pun seperti yang ia kehendaki, tanpa terhalang ataupun tercegah. Ia mengalahkan segala-galanya, apa pun tunduk padaNya. Jika kau memang seperti itu, silakan kau lakukan itu. Jika tidak bisa, berarti kau tidak seperti yang kau katakan. Kau dan siapa pun pasti tahu, kau tidak akan bisa melakukan hal-hal seperti itu. Kau terlalu lemah dan tidak mampu untuk sekedar menciptakan seekor nyamuk pun, atau bisa mengelak dari serangannya.
Ibrahim menjelaskan kesesatan, kebodohan, dan kebohongan Namrud yang mengaku sebagai tuhan, menjelaskan kekeliruan jalan yang ia tempuh, dan sikap membanggakan diri di hadapan para kaumnya yang bodoh. Namrud tidak lagi bisa menjawab kata-kata Ibrahim, hanya terdiam seribu bahasa. Karena itu Allah SWT berfirman, “Lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 258).
As-Suddi menyebutkan, perdebatan Ibrahim dengan Namrud Ini terjadi pada hari setelah Ibrahim keluar dari kobaran api. Ibrahim belum pernah bertemu sebelumnya, kemudian terjadilah perdebatan ini.
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Zaid bin Aslam, bahwa Namrud memiliki persediaan makanan, orang-orang biasa datang menemuinya untuk meminta perbekalan makanan. Ibrahim datang bersama yang lain untuk mengambil perbekalan makanan. Sebelumnya, Ibrahim belum pernah bertemu Namrud. Saat itulah terjadi perdebatan di atas. Namrud tidak memberikan makanan kepada Ibrahim seperti yang diberikan pada yang lain. Ibrahim keluar tanpa membawa makanan apa pun.
Setelah berada di dekat rumah, Ibrahim menghampiri sebuah gundukan pasir, lalu memenuhi kedua ranselnya dengan pasir. Setelah itu Ibrahim mengatakan, “Aku akan mengalihkan perhatian keluargaku saat tiba nanti.’ Saat tiba di rumah, Ibrahim meletakkan barang-barang bawaan, bersandar lalu tidur. Istrinya, Sarah, bangun menghampiri kedua ransel bawaan Ibrahim, Sarah mendapati keduanya penuh dengan makanan enak. Sarah kemudian membuatkan makanan. Setelah Ibrahim bangun, ia melihat barang-barang bawaannya sudah dibenahi. Ibrahim kemudian bertanya, ‘Dari mana kalian mendapatkan makanan ini?’ Sarah menjawab, ‘Makanan yang kau bawa.’ Ibrahim akhirnya tahu itu adalah rezeki yang diberikan Allah kepada mereka.”
Zaid bin Aslam mengatakan, “Allah mengutus seorang malaikat untuk menemui si raja lalim itu, menyuruhnya untuk beriman kepada Allah, namun si raja enggan beriman. Malaikat menyerunya untuk kali kedua, namun ia tetap enggan beriman. Selanjutnya malaikat menyeru untuk kali ketiga, ia tetap saja tidak mau beriman. Akhirnya malaikat itu berkata, ‘Kumpulkan seluruh bala tentaramu, aku akan mengumpulkan golonganku.’
Namrud mengumpulkan seluruh bala tentaranya saat matahari terbit, sebelum mereka sempat melihat bulatan matahari. Allah kemudian mengirim sekawanan lalat seperti nyamuk. Allah menguasakan nyamuk-nyamuk tersebut atas mereka, memakan daging dan darah mereka. Mereka kemudian dibiarkan dalam wujud berupa tulang-belulang rapuh.
Seekor nyamuk masuk ke hidung si raja bengis itu, dan bertahan di sana selama 400 tahun lamanya. Allah menyiksanya dengan nyamuk itu. Selama itu, ia memukuli kepalanya dengan tongkat kecil, hingga Allah membinasakannya karena seekor nyamuk.
Kisah ini mengisyaratkan tentang kebesaran Tuhan. Allah berkuasa membalas keangkuhan manusia yang congkak dan menumbangkannya dengan perkara sepele, seperti kisah makar dan konspirasi Abrahah dengan pasukan gajahnya yang hendak menghancurkan Ka'bah.
Kedigdayaan pasukan gajahnya dikalahkan dengan pasukan kecil berupa gerombolan burung ababil ataupun kisah tentang kematian Fir'aun yang mengaku tuhan. Penguasa Mesir itu meninggal tenggelam di Laut Merah.
(source: KISAH PARA NABI, IBNU KATSIR, UMMUL QURA, 2015)*
FAKTA ILMIAH :
Nyamuk adalah hewan serangga yang termasuk dalam ordo Diptera (lalat), dan tergolong dalam famili Culicidae; genus yang berada dalam kelompok ini mencakup Anopheles, Culex, Psorophora, Ochlerotatus, Aedes, Sabethes, Wyeomyia, Culiseta, dan Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar 35 genera yang merangkum 2700 spesies. Nyamuk mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang; antar spesies berbeda-beda tetapi jarang sekali melebihi 15 mm.
Dalam bahasa Inggris, nyamuk dikenal sebagai "mosquito", berasal dari sebuah kata dalam bahasa Spanyol atau bahasa Portugis yang berarti lalat kecil. Penggunaan kata mosquito bermula sejak tahun 1583.
Pada nyamuk betina, bagian mulutnya membentuk probosis panjang untuk menembus kulit mamalia (atau dalam sebagian kasus burung atau juga reptilia dan amfibi) untuk menghisap darah. Nyamuk betina memerlukan protein untuk pembentukan telur dan oleh karena diet nyamuk terdiri dari madu dan jus buah, yang tidak mengandung protein, kebanyakan nyamuk betina perlu mengisap darah untuk mendapatkan protein yang diperlukan.
Nyamuk jantan berbeda dengan nyamuk betina, dengan bagian mulut yang tidak sesuai untuk menghisap darah. Agak rumit nyamuk betina dari satu genus, Toxorhynchites, tidak pernah menghisap darah. Larva nyamuk besar ini merupakan pemangsa jentik-jentik nyamuk yang lain.
Nyamuk mengalami empat tahap dalam siklus hidup: telur, larva, pupa, dan dewasa. Tempo tiga peringkat pertama bergantung kepada spesies - dan suhu. Hanya nyamuk betina saja yang menyedot darah mangsanya. dan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan makan. Sebab, pada kenyataanya, baik jantan maupun betina makan cairan nektar bunga. sebab nyamuk betina memberi nutrisi pada telurnya. Telur-telur nyamuk membutuhkan protein yang terdapat dalam darah untuk berkembang.
Fase perkembangan nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa sangat menakjubkan. Telur nyamuk biasanya diletakkan pada daun lembab atau kolam yang kering. Pemilihan tempat ini dilakukan oleh induk nyamuk dengan menggunakan reseptor yang ada di bawah perutnya. Reseptor ini berfungsi sebagai sensor suhu dan kelembaban. Setelah tempat ditemukan, induk nyamuk mulai mengerami telurnya. Telur-telur itu panjangnya kurang dari 1 mm, disusun secara bergaris, baik dalam kelompok maupun satu persatu. Beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya saling berdekatan membentuk suatu rakit yang bisa terdiri dari 300 telur.
Selesai itu, telur berada pada masa periode inkubasi (pengeraman). Pada periode ini, inkubasi sempurna terjadi pada musim dingin. Setelah itu larva mulai keluar dari telurnya semua dalam waktu yang hampir sama. Anak Nyamuk atau ENCU Sampai siklus pertumbuhan ini selesai secara keseluruhan. Larva nyamuk akan berubah kulitnya sebanyak 2 kali. Selesai berganti kulit, nyamuk berada pada fase transisi. Fase ini dinamakan "fase pupa". Pada fase ini, nyamuk sangat rentan terhadap kebocoran pupa. Agar tetap bertahan, sebelum pupa siap untuk perubahan kulit yang terakhir kalinya, 2 pipa nyamuk muncul ke atas air. pipa itu digunakan untuk alat pernapasan.
Nyamuk dalam kepompong pupa yang cukup dewasa dan siap terbang dengan semua organnya seperti antena, belalai, kaki, dada, sayap, perut, dan mata besar yang menutupi sebagian besar kepalanya. lalu kepompong pupa disobek di atas. Tingkat ketika nyamuk yang telah lengkap muncul ini adalah tingkat yang paling membahayakan.
Nyamuk harus keluar dari air tanpa kontak langsung dengan air, sehingga hanya kakinya yang menyentuh permukaan air. Kecepatan ini sangatlah penting, meskipun angin tipis dapat menyebabkan kematiannya. Akhirnya, nyamuk tinggal landas untuk penerbangan perdananya setelah istirahat sekitar setengah jam.
Culex tarsalis bisa menyelesaikan siklus hidupnya dalam tempo 14 hari pada 20 °C dan hanya sepuluh hari pada suhu 25 °C. Sebagian spesies mempunyai siklus hidup sependek empat hari atau hingga satu bulan. Larva nyamuk dikenal sebagai jentik dan didapati di sembarang bekas berisi air. Jentik bernafas melalui saluran udara yang terdapat pada ujung ekor. Pupa biasanya seaktif larva, tetapi bernafas melalui tanduk thorakis yang terdapat pada gelung thorakis. Kebanyakan jentik memakan mikroorganisme, tetapi beberapa jentik adalah pemangsa bagi jentik spesies lain. Sebagian larva nyamuk seperti Wyeomia hidup dalam keadaan luar biasa.
Jentik-jentik spesies ini hidup dalam air tergenang dalam tumbuhan epifit atau di dalam air tergenang dalam pohon periuk kera. Jentik-jentik spesies genus Deinocerites hidup di dalam sarang ketam sepanjang pesisir pantai.
Kebanyakan kelompok nyamuk modern tidak lagi bergantung kepada racun serangga berbahaya tetapi menjurus kepada organisme khusus yang memakan nyamuk, atau menjangkiti mereka dengan penyakit yang membunuh mereka. Hal-hal seperti itu bisa terjadi walaupun di Kawasan Perlindungan, seperti "Forsyth refuge" dan Seaview Marriott Golf Resort, dimana sekawanan nyamuk utama dilaksanakan dan dipantau menggunakan "killifish'' dan belut muda. Kesannya di dokumen dengan menggunakan mikroskop maju bawah air seperti ecoSCOPE.
Bagaimanapun, wabah penyakit bawaan nyamuk masih menyebabkan penyemburan dengan bahan kimia yang kurang beracun dibandingkan yang digunakan pada masa lalu.
Capung, juga dikenal sebagai elang nyamuk merupakan agen pengawal yang berkesan. Larva capung (naiads) memakan jentik-jentik dalam penampungan air sementara capung dewasa pula memburu dan memakan nyamuk dewasa, terutama nyamuk harimau asia yang terbang pada waktu siang. Penyemburan nyamuk bisa memperburuk keadaan dan meningkatkan populasi nyamuk dalam tempo jangka masa panjang sekiranya penyemburan itu melenyapkan capung dan pemangsa almi yang lain.
Sebagian nyamuk mampu menyebarkan penyakit protozoa seperti malaria, penyakit filaria seperti kaki gajah, dan penyakit bawaan virus seperti demam kuning, demam berdarah dengue, encephalitis, dan virus Nil Barat. Virus Nil Barat disebarkan secara tidak sengaja ke Amerika Serikat pada tahun 1999 dan pada tahun 2003 telah merebak ke seluruh negara bagian di Amerika Serikat.
Berat nyamuk hanya 2 hingga 2,5 mg. Nyamuk mampu terbang antara 1,5 hingga 2,5 km/jam.
Pengusir nyamuk biasanya mempunyai kandungan aktif berikut: DEET, sulingan minyak Catnip - Nepetalactone, Citronella atau sulingan minyak eucalyptus.
Nyamuk selalu dapat menemukan sasarannya dengan tepat karena mereka melihat dengan gerakan, panas tubuh, dan bau tubuh. Sewaktu nyamuk hinggap di tubuh dia menempelkan mulutnya yang mirip sedotan disebut juga probosis. Lalu terdapat pisau yang akan merobek kulit korban maju mundur hingga menemukan urat darah, setelah itu baru darah yang ada dihisap. Dalam prosesnya nyamuk juga mengeluarkan air liur yang mengandung antikoagulan untuk mencegah darah yang ia hisap membeku. Proses ini berlangsung cepat dan seolah-olah proses yang terjadi adalah nyamuk menusuk tubuh padahal tidak begitu, nyamuk membedah kita seperti layaknya dokter bedah yang cepat dan akurat. Setelah nyamuk kenyang dia akan mencabut probiosis dan terbang. Air liur nyamuk yang tertinggal di kulit korban akan merangsang tubuh layaknya ada benda asing yang mengganggu, terjadilah proses yang dikenal dengan alergi, dan yang terjadi adalah bentol-bentol dan gatal.
Terdapat beberapa tanaman yang dapat menangkal nyamuk :
A. Karena bau bunga atau daunnya:
> Marigold
> Ageratum
> Geranium
> Bawang putih
> Lavender
B. Sarinya dioleskan pada tubuh:
> Rosemary
> Catnip
> Citronella / Minyak Sereh
> Tansy
> Kemangi
DIALOG IMAN :
(Lihat : Majalah BILAL edisi 17)
Nyamuk, Hewan Kecil yang Tidak Sederhana
Serangga kecil yang sering bikin tidur malam kita tidak nyenyak itu, bernama nyamuk. Nyamuk sering dianggap hewan pengganggu di saat tidur. Ketika hinggap di kulit dengan spontan, plok! dan matilah si nyamuk kecil itu.
Tapi tahukah kamu, bahwa nyamuk merupakan ciptaan Allah yang sangat tidak sederhana? Jika kita mengamati hewan kecil ini, maka kita akan melihat betapa Maha Sempurna Penciptanya.
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik.” (Al-Quran surat Al Baqarah ayat 26)
Di dalam tubuhnya yang kecil, ternyata nyamuk dilengkapi banyak peralatan canggih. Ia memiliki radar, yang dapat menggantikan matanya untuk beraktivitas di tempat yang gelap. Dengan radar yang dimilikinya, nyamuk tetap bisa menggigit kita tepat pada sasarannya. Walaupun kita berada di tempat yang sama sekali tidak ada cahayanya. Bukan berarti nyamuk tidak memiliki mata. Mereka bahkan memiliki sekitar seratus mata pada kepala mungilnya. Masya Allah.
Teman, saat menghisap darah, ternyata serangga ini malakukan cara yang mengagumkan. Pertama, saat mendarat di targetnya, mereka memilih tempat menggunakan bibir yang ada di mulut penghisapnya. Nyamuk memiliki jarum yang terbungkus pelindung. Jarum ini dikeluarkannya setiap mereka menghisap darah. Mungkin yang kita bayangkan selama ini, jarum inilah yang ditusukkan oleh hewan kecil ini saat menghisap darah kita. Namun ternyata tidak sesederhana itu, teman.
Nyamuk menggunakan rahang atas berbentuk seperti pisau, dan rahang bawah memiliki gigi yang mengarah ke dalam. Rahang bawah bekerja sebagai gergaji dan menusuk kulit dengan bantuan rahang atas. Kemudian, barulah jarum dimasukkan ke dalam lubang hingga mencapai pembuluh yang akan dihisap darahnya.
Tapi kenapa ya kita tidak merasakan tajamnya rahang yang berbentuk pisau dan gergaji itu saat mengenai kulit kita? Ini dikarenakan nyamuk menghasilkan anestesi. Anestesi membuat kita tidak merasakan rasa sakitnya. MasyaAllah.
Lalu setelah digigit nyamuk, kenapa kulit kita ada bekas bentolnya? Nah begini penjelasannya, teman. Biasanya ketika manusia berdarah, darah akan membuat gumpalan dalam waktu yang cepat. Ini disebabkan adanya aksi enzim di dalam tubuh kita. Nah, aksi enzim ini tentunya akan menjadi masalah besar bagi nyamuk. Karena enzim akan menutup bukaan yang nyamuk buat dengan cepat. Jika begitu, nyamuk tentu tidak bisa menghisap darah kita.
Namun, Allah maha Adil. Maka nyamuk tidak mengalami masalah ini. Allah ta'ala melengkapi mereka dengan suatu zat yang ada di dalam tubuh mereka. Dengan zat tersebut, dapat mencegah penggumpalan darah dalam tubuh manusia. Sehingga nyamuk dapat menghisap darah sampai selesai. Setelah selesai, bekas gigitannya akan membengkak dan gatal. Hak ini disebabkan oleh enzim yang mereka keluarkan untuk mencegah penggumpalan darah.
Oia, teman, ketika nyamuk ada di dekat kita, akan terdengar suara dengungan di telinga kita. Sebenarnya suara itu dari mana ya asalnya? Ternyata suara itu berasal dari kepakan sayapnya. Satu kali kepakan sayapnya mencapai empat ribu kali per detik.
Masya Allah, semua itu sangat mengagumkan ya teman. Hewan kecil yang seringkali kita anggap remeh ini ternyata merupakan ciptaan Allah yang sangat luar biasa.*
*****
Dalam Al Qur’an, ada banyak hewan yang dijadikan sebagai perumpamaan. Semisal laba-laba, nyamuk, lalat, lebah, semut dan sebagainya. Tak lain itu dimaksudkan agar manusia bertafakur tentang makhluk-makhluk lainnya yang Allah ciptakan. Bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan mempunyai hikmah.
Sebagaimana dalam surat Al Baqarah ayat 26.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik.”
Dalam tafsir Tahlili Al Baqarah ayat 26, Tafsir Alquran Kementerian Agama RI menjelaskan bahwa menurut Ibnu Abbas ayat tersebut diturunkan berhubungan dengan tuduhan orang-orang Yahudi bahwa perumpamaan yang ada dalam Al Quran itu tidak mempunyai nilai yang berarti. Karena dalam perumpamaan itu disebut sesuatu yang tidak berarti, bahkan termasuk binatang kecil lagi hina.
Selain nyamuk dalam Al Baqarah ayat 26, Allah juga memberikan perumpamaan lain seperti zubab yang berarti lalat pada surat al Hajj ayat 73 atau juga laba-laba pada surat Al Ankabut ayat 41. Seandainya orang Yahudi itu mengetahui maksud perumpamaan itu, tentu mereka akan menyatakan bahwa perumpamaan dalam Al Quran merupakan perumpamaan yang tepat dan benar.
Dalam Al Baqarah ayat 26, Allah dengan tegas menyatakan tak segan untuk membuat contoh dan perumpamaan dalam penjelasan informasinya dengan menggunakan perumpamaan seekor nyamuk atau bahkan lebih kecil dari itu. Orang yang beriman pasti dapat menerima keterangan ini, namun orang kafir dan munafik tak mau memahami tujuan Allah membuat perumpamaan semisal nyamuk dalam Al Quran.
Mari sekilas kita menyelami hikmah dibalik penciptaan seekor nyamuk. Ada beberapa jenis nyamuk, seperti jenis anapheks atau anopheles yang hidup di air kotor, ini merupakan jenis nyamuk berbahaya yang menyebabkan malaria.
Ada juga jenis nyamuk Aedes aegypti yang hidup di air bersih dan menyebabkan demam berdarah. Namun ada juga nyamuk tak berbahaya seperti culex. Kekuasaan Allah yang telah menciptakan predator bagi nyamuk seperti cecak, karak, tokek dan lainnya.
Ketika mencoba memahami perikehidupan nyamuk, kita akan mengetahui betapa rumit dan kompleksnya sistem yang berjalan. Secara umum kita mengetahui makhluk ini adalah penghisap darah manusia dan binatang lainnya.
Akan tetapi, pengetahuan demikian ini tidak sepenuhnya benar. Karena tidak semua individu nyamuk hidup dari mengisap darah. Hanya nyamuk betina saja yang memerlukan darah dalam dietnya.
Nyamuk betina memerlukan protein dari darah dalam proses akhir pembentukan telur. Dengan kata lain, nyamuk betina mengisap darah untuk meyakinkan akan berlanjutnya kehidupan jenisnya.
Proses perkembangan nyamuk merupakan salah satu aspek yang mengagumkan. Ada fase yang panjang dalam perkembangan nyamuk yang tak bisa penulis jabarkan secara detail dalam tulisan ini.
Selain fase perkembangan nyamuk yang menakjubkan, nyamuk juga dilengkapi perangkat sistem canggih. Nyamuk dilengkapi dengan organ yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan suhu, udara, kelembaban dan juga bau.
Bahkan, nyamuk mempunyai kemampuan untuk melihat melalui perubahan suhu yang menolongnya saat mencari mangsanya, walaupun keadaan sangat gelap. Bahkan berkaitan dengan teknik nyamuk menghisap darah ternyata juga merupakan seperangkat sistem yang sangat kompleks dan rumit.
Dengan rancangan tubuh yang demikian, walaupun hanya ada pada nyamuk yang kecil, ini merupakan bukti akan kerja penciptaan. Di dalam Alquran, nyamuk yang kecil ini dijadikan contoh untuk memperlihatkan kekuasaan Allah. Mereka yang beriman mengerti, sedangkan mereka yang kafir menyangkalnya.*
*****
DUNIA INI TIDAK LEBIH BAIK DARI SAYAP SEEKOR NYAMUK
Benarkah dunia yang sebegitu besar dan indahnya lebih hina dari seekor nyamuk?
Makhluk yang sering kita pandang tak berharga itu?
Makhluk kecil yang sering mengusik ketenangan kita. Ternyata ia mengalahkan kemegahan dan kebesaran dunia. Apa pasal?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus menyamakan persepsi terlebih dahulu.
Sebagaimana sudah maklum, bahwa pandangan orang terhadap dunia itu berbeda-beda. Di satu sisi, orang memandang dunia ini adalah ‘surga’, namun di sisi lain orang memandang dunia sekadar mampir ngombe saja. Perbedaan pandang ini bertolak dari perbedaan cara memahami makna kehidupan dunia itu sendiri.
Yang pertama mengartikan kehidupan dunia dengan kesenangan dan foya-foya. Sedangkan yang kedua mengartikan kehidupan dunia ini sebagai ladang amal dan ibadah. Jika yang pertama mereka akan berbuat apa saja demi tercapainya cita-cita, tanpa menghormati nilai-nilai kemanusian, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Tipu, dusta, manipulsi, kolusi, dan korupsi adalah ‘makanan’ sehari-hari. Bahkan membunuh pun bukanlah ‘barang baru’. Mereka inilah sekumpulan orang yang tidak bernurani dan ingin menang sendiri. Orang yang hatinya telah mati dan tidak mengenal kasih sayang, yang kerjaannya hanya memperturutkan hawa nafsu belaka. Maka yang kedua adalah orang-orang berhati lembut, penuh kasih sayang, dan bernurani sehat.
Sejatinya, yang menjadikan nilai dunia lebih rendah dari nyamuk bukanlah karena dunia itu lebih jelek dari segi penciptaannya daripada nyamuk. Bukan, bukan karena itu. Sebab kalau dari sisi ini jelas dunia jauh lebih bernilai. Apa yang ada di dunia adalah semata-mata karunia dan nikmat dari Allah, sang Pencipta. Gunung, lautan, matahari, bulan, bintang, dan seterusnya adalah pemberian yang wajib disyukuri. Dan tanpa diragukan lagi, semua itu jauh lebih baik dan berharga dibanding nyamuk.
Tetapi yang menjadikan nilai dunia ini lebih rendah dari nyamuk adalah dikarenakan polah dan tingkah laku manusia itu sendiri. Lalu apa hubungannya dengan soalan ini? Ya jelas ada hubungannya, karena manusia adalah pemakmur dan penanggung jawab bumi. Terlebih-lebih mayoritas penduduk bumi berjenis manusia pertama, sebagaimana diuraikan di atas. Jadi, kesimpulannya adalah tingkah laku manusia itu lebih hina dan rendah dari pada tingkah laku nyamuk.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ
أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَتْ
الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا
مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami ['Abdul Hamid bin Sulaiman] dari [Abu Hazim] dari Sahl bin Sa’ad berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda, “Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi, no. 2242 dan Ibnu Mâjah, no. 4110 dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu. Lafazh ini milik at-Tirmidzi.. Syeikh Albani menshahihkan hadis ini).
Tapi, bagaimana mungkin manusia bisa lebih hina dan rendah daripada nyamuk?
Bukankah manusia diberi kelebihan akal, sedangkan nyamuk tidak?
Justru, di sinilah letak pokok persoalannya.
Jika manusia memang memiliki akal, kenapa ia mengganggu yang lain? Kenapa buang sampah sembarangan, misalnya? Kenapa pula merokok di sembarang tempat, bukankah ia punya mata, kenapa tidak digunakan? Lalu kenapa juga ada penebangan liar, perusakan alam dan pemusnahan satwa? Bukankah kerusakan yang terjadi di bumi ini sebagian besar adalah ulah tangan manusia? Bukankah error-nya ekosistem itu juga disebabkan manusia?
Belum lagi kerusakan moral: pembunuhan, pemerkosaan, pemerasan, penganiayaan, pencurian, dan seterusnya. Bukankah itu juga tingkah laku manusia? Ya, memang, kerusakan itu manusialah biang keladinya. Sungguh benar apa yang diberitakan Al-Qur`an.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar (QS. ar-Rûm [30]: 41).
Itu pun masih ditambahi penyimpangan-penyimpangan agama yang dilakukan manusia. Kemusyrikan di mana-di mana. Kedustaan sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan larangan-larangan agama pun dianggap sepele. Lalu di mana akal manusia? Di mana pula mata dan telinganya? Kenapa tidak digunakan?
Pantaslah memang, jika manusia menjadi lebih hina dan rendah daripada nyamuk. Tingkah lakunya saja sudah tidak mencerminkan sisi kemanusiaan. Jika hal itu dilakukan oleh binatang kita bisa memaklumi, karena binatang tidak berakal. Kalau manusia? Adakah pembelaan yang pantas bagi orang yang tidak mau menggunakkan akalnya? Maka Allah mencela orang yang tidak mau menggunakan akalnya, bahkan menyebutnya lebih sesat dari binatang.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai (QS. al-A’râf [7]: 179).
Itulah tingkah laku manusia jika tidak ada keimanan di dalam dadanya. Iman akan mengikat batin manusia dengan sang Pencipta, membuat hidupnya serasi dan seimbang antara tampilan luar dan dalamnya. Manakala hati kosong dari cahaya ilahi, manusia menjadi tidak terkendali. Sebab tidak ada pengikat antara dirinya dan Tuhannya. Itulah hal paling mendasar kenapa manusia seringkali tidak punya nurani.
Alih-alih menunaikan hak orang lain, hak dirinya yang asasi saja ia abaikan. Yang terpikirkan olehnya adalah bagaimana hidup senang. Hanya ada nafsu dalam benaknya. Kecintaannya kepada dunia telah membuat mata hatinya buta. Meskipun cahaya petunjuk terang benderang di depan matanya, ia tidak akan melihatnya. Tidak ada ketaatan dan kebaktian. Yang ada hanya ketamakan dan kerakusan. Inilah alasan kenapa Allah ‘Azza wa Jalla memandang dunia ini hina, lebih rendah dari sayap nyamuk. Berikut ini alasan kenapa dunia disifati dengan kehinaan.
> Kecintaan seseorang kepada dunia akan membuatnya mengagungkan dunia, padahal ia rendah di sisi Allah. Dan di antara dosa-dosa besar adalah mengagungkan sesuatu yang dianggap-Nya rendah.
> Kecintaan seseorang terhadap dunia akan menjadikan tujuan hidupnya untuk dunia semata, sehingga ia akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya. Bahkan sarana yang seharusnya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah dan akhirat pun ia tujukan untuk dunianya. Akibatnya, semuanya menjadi terbalik, dan hatinya menjadi berbalik arah ke belakang.
> Kecintaan kepada dunia juga akan menghalangi seseorang melakukan amalan yang akan bermanfaat baginya di akhirat, karena ia terlalu sibuk oleh dunia yang dicintainya.
> Kecintaan kepada dunia juga akan menjadikan seseorang terlalu bergantung pada dunia. Padahal seberat-berat siksa adalah karena dunia.
Jika kecintaan itu menjadikan seseorang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat, maka ia termasuk sebodoh-bodoh manusia. Sebab ia mendahulukan kehidupan yang semu dari kehidupan yang hakiki.*