SAPI
AYAT :
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
QS. Al Baqarah, 67 : Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina". Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil".
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ
QS. Al Baqarah, 68 : Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ
QS. Al Baqarah, 69 : Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya".
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ
QS. Al Baqarah, 70 : Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)".
قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ
QS. Al Baqarah, 71 : Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya". Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
QS. Al Baqarah, 73 : Lalu Kami berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!" Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.
وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ
QS. Al Baqarah, 92 : Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
QS. Al Baqarah, 93 : Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengar tetapi tidak mentaati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).
وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ
QS. Hud, 69 : Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat". Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.
فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ
QS. Az Zariyat, 26 : Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.
وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ ۖ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ
QS. Yusuf, 43 : Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering". Hai orang-orang yang terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat mena'birkan mimpi".
يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ
QS. Yusuf, 46 : (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya".
KISAH :
1. Keistimewaan Nabi Ibrahim, Selalu Memuliakan Tamu
Dalam Al-Qur’an, Allah banyak menyebut pujian terhadap Ibrahim di sejumlah tempat. Nabi Ibrahim adalah seorang yang selalu memuliakan tamu dengan menjamunya. Walaupun Nabi Ibrahim tidak mengenalnya, beliau akan memberikan jamuan yang terbaik untuk tamunya.
Allah SWT berfirman, “Dan para utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, ‘Selamat.’ Dia (Ibrahim) menjawab, '.Selamat (atas kamu).’Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, 'Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.’ Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub. Dia (istrinya) berkata, 'Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.’ Mereka (para malaikat) berkata, 'Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya, Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih’.” (Hud: 69-73).
Allah SWT berfirman, "Dan kabarkanlah (Muhammad) kepada mereka tentang tamu Ibrahim (malaikat). Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, ‘Salam.’ Dia (Ibrahim) berkata, 'Kami benar-benar merasa takut kepadamu.’ (Mereka) berkata, Janganlah engkau merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang pandai (Ishaq).’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu (dengan cara) bagaimana kamu memberi (kabar gembira) tersebut?’ (Mereka) menjawab, ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.’ Dia (Ibrahim) berkata, 'Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 51-56).
Allah SWT berfirman, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, ‘Salaman’ (salam), Ibrahim menjawab, ‘Salamun’ (salam). (Mereka itu) orang-orang yang belum dikenalnya. Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan). Ibrahim berkata, ‘Mengapa tidak kamu makan.’ Maka dia (Ibrahim) merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, ‘Janganlah kamu takut,’ dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). Kemudian istrinya datang memekik (tercengang) lalu menepuk wajahnya sendiri seraya berkata, ‘(Aku ini) seorang perempuan tua yang mandul’ Mereka berkata, ‘Demikianlah Rabbmu berfirman. Sungguh, Dialah Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui’.” (Adz-Dzariyat: 23-30).
Allah menyebutkan, para malaikat—mereka berjumlah tiga malaikat; Jibril, Mikail, dan Israfil—saat datang ke tempat Ibrahim, Ibrahim mulanya mengira mereka tamu. Ibrahim akhirnya memperlakukan mereka layaknya tamu. Ibrahim memanggang anak sapi gemuk di antara sapi-sapinya yang terbaik. Saat menyuguhkan hidangan itu kepada mereka, Ibrahim melihat mereka sama sekali tidak punya selera makan, karena para malaikat tidak memerlukan makanan. Ibrahim curiga.
Firman Allah SWT, “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (Hud: 71). Yaitu para malaikat menyampaikan berita gembira itu pada Sarah. Sarah merasa senang dengan keberadaan Ishaq, anaknya, kemudian setelah itu muncul cucunya, Ya’qub. Sarah berkata, “Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua?” (Hud: 72). Yaitu bagaimana seorang wanita sepertiku ini bisa memiliki anak, sementara aku sudah tua, mandul pula, sementara suamiku pun sudah sangat tua? Sarah heran akan memiliki anak dalam kondisi seperti itu. Karena itu Sarah mengatakan, “Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.’ Mereka (para malaikat) berkata, ‘Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya, Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih’.” (Hud: 72-73).
Ibrahim juga kagum dengan berita gembira tersebut sekaligus merasa sangat senang sekali. “Dia (Ibrahim) berkata, ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu (dengan cara) bagaimana kamu memberi (kabargembira) tersebut?’ (Mereka) menjawab, ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orangyang berputus asa’.” (Al-Hijr: 54-55).
Para malaikat menegaskan berita gembira yang disampaikan, mereka menyampaikan berita gembira, “(Kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orangyang pandai (Ishaq).” (Al-Hijr: 53) Ia adalah Ishaq, saudara Isma’il. Sebutan anak lelaki yang pandai, tepat sesuai dengan kedudukan dan kesabarannya. Seperti itulah Allah menyebut Ishaq sebagai sosok yang tepat janji dan sabar.
*****
Dalam surah Hud, Allah SWT berfirman, “Dan para utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan, ‘Selamat/ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Selamat (atas kamu).’ Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, ‘Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Luth.’ Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya’qub. Dia (istrinya) berkata, ‘Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua?Ini benar-benar sesuatu yang ajaib.’Mereka (para malaikat) berkata, ‘Mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya, Allah Maha Terpuji, Maha Pengasih.’ Maka ketika rasa takut hilang dari Ibrahim dan kabar gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal jawab dengan (para malaikat) Kami tentang kaum Luth. Ibrahim sungguh penyantun, lembut hati dan suka kembali (kepada Allah). Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Rabbmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak. Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) itu datang kepada Luth, dia merasa curiga dan dadanya merasa sempit karena (kedatangan)nya. Dia (Luth) berkata, ‘Ini hari yang sangat sulit.’ Dan kaumnya segera datang kepadanya. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan keji. Luth berkata, Wahai kaumku! Inilah putri-putri (negeri)ku mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu orang yang pandai?1 Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya, engkau pasti tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan (syahwat) terhadap putri-putrimu; dan engkau tentu mengetahui apa yang (sebenarnya) kami kehendaki.’ Dia (Luth) berkata, ‘Sekiranya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).’ Mereka (para malaikat) berkata, ‘Wahai Luth! Sesungguhnya, kami adalah para utusan Rabbmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah beserta keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya, dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya, saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?’ Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar, yang diberi tanda oleh Rabbmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang zalim’.” (Hud: 69-83).
Dalam surah Al-Hijr, Allah SWT berfirman, “Dan kabarkanlah (Muhammad) kepada mereka tentang tamu Ibrahim (malaikat). Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan, ’Salam.’ Dia (Ibrahim) berkata, Kami benar-benar merasa takut kepadamu.’ (Mereka) berkata, janganlah engkau merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang pandai (Ishaq).’ Dia (Ibrahim) berkata, “Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu (dengan cara) bagaimana kamu memberi (kabar gembira) tersebut?’ (Mereka) menjawab, ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.’ Dia (Ibrahim) berkata, 'Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah urusanmu yang penting, wahai para utusan?’ (Mereka) menjawab, ‘Sesungguhnya, kami diutus kepada kaum yang berdosa, kecuali para pengikut Luth. Sesungguhnya, kami pasti menyelamatkan mereka semuanya, kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa dia termasuk orang yang tertinggal (bersama orang kafir lainnya).’ Maka ketika utusan itu datang kepada para pengikut Luth, dia (Luth) berkata, ‘Sesungguhnya, kamu orang yang tidak kami kenal’ (Para utusan) menjawab, ‘Sebenarnya kami ini datang kepadamu membawa azab yang selalu mereka dustakan. Dan kami datang padamu membawa kebenaran dan sungguh, kami orang yang benar. Maka pergilah kamu pada akhir malam beserta keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang. Jangan ada di antara kamu yang menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.’ “ (Al-Hijr: 51-65)
Dalam surah Al-‘Ankabut, Allah SWT berfirman, "Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, 'Sesungguhnya, aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh. Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.’ Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, dan Kami jadikan kenabian dan kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, termasuk orang yang saleh. Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, Kamu benar-benar melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?’ Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.’ Dia (Luth) berdoa, ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat kerusakan itu.’ Dan ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan, ‘Sungguh, kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sungguh orang-orang zalim.’ Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya, di kota itu ada Luth.’ Mereka (para malaikat) berkata, ‘Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).’ Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka (para utusan) berkata, 'Janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya, Kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia termasuk orang-orang yang tinggal (dibinasakan).’ Sesungguhnya, Kami akan menurunkan azab dari langit kepada penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sungguh, tentang itu telah Kami tinggalkan suatu tanda yang nyata bagi orang-orang yang mengerti’.” (Al-‘Ankabut: 28-35)*
*****
2. Kisah Nabi Yusuf menafsirkan mimpi sang Raja
Sebagaimana diceritakan dalam Alquran, selain berwajah tampan, Yusuf juga dianugerahi oleh Allah SWT kecerdasan dalam mengelola keuangan negara (ekonomi) dan pandai mengungkapkan tabir mimpi. Kecerdasannya dalam mengungkapkan takwil mimpi sudah didapatkannya sejak ia masih kecil. Ketika itu, ia bermimpi melihat bulan, matahari, dan 11 bintang bersujud kepadanya.
“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya. Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan kulihat semuanya sujud kepadaku.’ Dia (ayahnya) berkata. ‘Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.’ Dan demikianlah, Rabb memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sungguh, Rabbmu Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 4-6).
Para mufassir dan kalangan lain menuturkan, “Yusuf saat masih kecil dan belum baligh, bermimpi, seakan-akan sebelas bintang—sebagai isyarat kesebelas saudaranya—matahari dan bulan—keduanya mengisyaratkan kedua orang tuanya—mereka semua bersujud kepadanya. Yusuf tercengang karena hal itu.
Saat bangun, Yusuf menceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Ayahnya mengerti, kelak Yusuf akan meraih kedudukan tinggi di dunia dan akhirat, karena ayah dan seluruh saudaranya akan tunduk padanya dalam kedudukan itu. Ayahnya memerintahkan Yusuf agar menyembunyikan mimpi itu dan tidak ia ceritakan kepada saudara-saudaranya, agar mereka tidak hasad, berbuat lalim, dan melakukan berbagai tipu daya kepadanya.
“Dan demikianlah, Rabb memilih engkau (untuk menjadi Nabi),” yaitu sebagaimana Ia telah memperlihatkan impian agung itu kepadamu, karena sembunyikan dan jangan kau ceritakan mimpi itu, “Rabb memilih engkau (untuk menjadi Nabi)” yaitu mengkhususkan berbagai kelembutan dan rahmat padamu, “Dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi,” yaitu membuatmu bisa memahami makna-makna kalam dan takwil mimpi yang tidak bisa dipahami orang lain.
“Dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu,” yaitu dengan wahyu yang diberikan kepadamu, “Dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq,” yaitu Ia memberi nikmat padamu berupa nubuwat dan memperlakukanmu dengan baik, seperti halnya nikmat yang sama juga telah diberikan kepada ayahmu, Ya’qub, kakekmu, Ishaq, dan ayah kakekmu, Ibrahim Al-Khalil, “Sungguh, Rabbmu Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,” seperti yang Allah sampaikan, “Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An’am: 124).
Selain takwil mimpi itu, ketika Nabi Yusuf telah dewasa dan berada di penjara, Nabi Yusuf juga diminta untuk menakwilkan mimpi dua orang rekannya yang ada di penjara serta mimpi Sang Raja.
“Dan raja berkata (kepada para pemuka kaumnya), ‘Sesungguhnya, aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi’ Mereka menjawab, ‘(Itu) mimpi-mimpi yang kosong dan kami tidak mampu menakwilkan mimpi itu.’ Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, ‘Aku akan memberitahukan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).’ Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum)yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang keringagar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui. ’ Dia (Yusuf) berkata, ‘Agar Kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, dimana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur)’.” (Yusuf: 43-49).
Yusuf kemudian mencurahkan segala ilmu yang ia miliki tanpa ia tunda-tunda lagi, tanpa syarat apa pun, juga tidak meminta agar segera dikeluarkan dari penjara. Yusuf segera menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya, dan menakwilkan mimpi yang dialami raja. Yusuf memberitahukan akan terjadi masa subur selama tujuh tahun, kemudian disusul masa kemarau hebat selama tujuh tahun. “Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup),” yaitu hujan turun kepada mereka, tanah kembali subur, dan hidup kembali makmur, “Dan pada masa itu mereka memeras (anggur)” yaitu apa pun yang mereka peras dari tebu, anggur, zaitun, wijen, dan lainnya.
Yusuf kemudian menakwilkan mimpi itu dan menuntun mereka menuju kebaikan. Yusuf menjelaskan apa yang harus mereka kerjakan dalam kedua kondisi tersebut; saat masa subur dan masa kemarau. Mereka harus menyimpan biji-bijian tetap berada di tangkainya selama masa subur pada tujuh tahun pertama, selain untuk keperluan makan. Selanjutnya pada masa tujuh tahun berikutnya, jangan menanam biji terlalu banyak, karena besar kemungkinan biji-biji yang ditanam tidak akan tumbuh. Ini menunjukkan ilmu, pandangan, dan pemahaman Yusuf yang sempurna.
Setelah mengetahui kesempurnaan ilmu, akal, pandangannya dan pemahaman Yusuf yang tepat, raja memerintahkan agar Yusuf dipanggil untuk ia jadikan orang dekatnya. Saat utusan raja menemui Yusuf, Yusuf tidak mau keluar dari penjara sebelum semuanya mengetahui bahwa ia dipenjara secara semena-mena dan lalim, sebelum semuanya tahu bahwa ia bersih dari kebohongan yang dituduhkan padanya.
“Dan raja berkata, ‘Bawalah dia kepadaku/ Ketika utusan itu datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata, ‘Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka.’ Dia (raja) berkata (kepada perempuan-perempuan itu), ‘Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya?’ Mereka berkata, ‘Maha Sempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya/ Istri Al-Aziz berkata, ‘Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.’ (Yusuf berkata), Yang demikian itu agar dia (Al-Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (di rumah), dan bahwa Allah tidak meridai tipu daya orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu)yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya, Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang’.” “Dan raja berkata, 'Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku.’ Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia, dia (raja) berkata, ‘Sesungguhnya, kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya.’ Dia (Yusuf) berkata, 'Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.’ Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Dan sungguh, pahala akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa’.” (Yusuf: 50-57).
Setelah terbukti Yusuf tidak bersalah dan terbebas dari segala tuduhan yang diarahkan kepadanya, “Raja berkata, ‘Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku’,” yaitu aku akan menjadikannya sebagai orang dekatku, salah satu pembesar negara, salah satu ajudan terdekatku.
Setelah raja berbicara dengan Yusuf, mendengar penjelasannya, dan terbukti kondisi sebenarnya, “Dia (raja) berkata, 'Sesungguhnya, kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercaya’,” yaitu memiliki kedudukan dan terpercaya.
"Dia (Yusuf) berkata, 'Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan’,” Yusuf meminta kepada raja agar diberi wewenang untuk mengawasi logistik, karena ia memperkirakan terjadinya sejumlah kesalahan setelah tujuh tahun masa subur berlalu, agar ia bisa menjaga dan mengawasi keperluan makanan untuk banyak orang dengan cara yang diridhai Allah, yaitu dengan mengantisipasi dan memperlakukan rakyat dengan lemah lembut. Yusuf memberitahukan kepada raja bahwa ia pandai menjaga wewenang yang diberikan, terpercaya, bisa mengatur segala sesuatunya dengan tepat, dan bisa mengantisipasi kekurangan makanan.*
*****
3. Kisah Nabi Musa dan Sapi Betina Bani Israil
Allah SWT berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina. ’Mereka bertanya, Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?’ Dia (Musa) menjawab, Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.’ Mereka berkata. Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Dia (Allah) berfirman, bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.’ Mereka berkata, Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Dia (Allah) berfirman, bahwa (sapi) itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandang(nya).’ Mereka berkata, ‘Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belumjelas bagi kami, danjika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.’ Mereka berkata, ‘Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.’ Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu. Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seseorang, lalu kamu tuduh menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkap apa yang kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, 'Pukullah (mayat) itu dengan bagian dari (sapi) itu!’ Demikianlah Allah menghidupkan (orang)yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu mengerti’.” (Al-Baqarah: 67-73).
Ibnu Abbas, Ubaidah As-Salmani, Abu Aliyah, Mujahid, As-Suddi dan sejumlah kalangan salaf lain mengatakan, "Ada seorang Bani Israil karya raya, ia sudah tua renta, ia memiliki banyak keponakan, mereka mengharapkan kematiannya agar bisa mewarisi kekayaannya. Salah seorang dari mereka kemudian membunuhnya, lalu membuang jenazahnya di persimpangan jalan. Menurut salah satu sumber, dibuang di salah satu pintu rumah salah seorang keponakannya.
Pada pagi harinya, mereka bertikai terkait kematiannya. Salah seorang keponakannya datang, ia lalu berteriak dan mengadukan perlakuan tersebut. Mereka kemudian berkata, ‘Kenapa kalian tidak mengadukan pertikaian ini kepada Nabi Allah?’ Keponakan korban kemudian menemui Musa dan mengadukan perihal pamannya itu padanya. Musa berkata, ‘Atas nama Allah, aku menyumpah seseorang yang mengetahui perihal korban ini, untuk aku tanyai.’ Tak seorang pun di antara mereka mengetahui perihal korban. Mereka kemudian meminta Musa untuk menanyakan masalah ini kepada Rabb ‘Azza wa Jalla.
Musa kemudian menanyakan permasalahan itu kepada Rabb ‘Azza wa Jalla, lalu Allah memerintahkan Musa untuk memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi betina. Musa berkata, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka bertanya, ‘Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Maksud mereka, “Kami menanyakan perihal korban pembunuhan ini kepadamu, tapi kau malah berkata seperti itu kepada kami?”
“Dia (Musa) menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh,” yaitu aku berlindung kepada Allah untuk mengatakan selain yang diwahyukan kepadaku. Inilah jawaban yang disampaikan Rabb padaku saat aku bertanya pada-Nya tentang sesuatu yang kalian minta padaku untuk kutanyakan. Ibnu Abbas, Ubaidah, Mujahid, Ikrimah, As-Suddi, Abu Aliyah, dan lainnya mengatakan, “Andai mereka mengambil sapi betina apa saja lalu mereka sembelih, tentu maksudnya sudah tercapai. Hanya saja mereka mempersulit, akhirnya mereka pun dipersulit.”
Ada sebuah hadits marfu’ terkait masalah ini, hanya saja ada perawi dhaif dalam sanadnya.
Mereka kemudian bertanya seperti apa ciri-cirinya, setelah itu warnanya apa, berikutnya berapa usianya, hingga akhirnya sapi betina yang jarang ada disampaikan sebagai jawabannya. Penafsiran masalah ini sudah kami sebutkan semuanya dalam kitab tafsir.
Intinya, mereka diperintahkan untuk menyembelih sapi betina awan, yaitu sapi betina pertengahan antara yang sudah tua dan yang masih muda. Demikian dinyatakan Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Aliyah, Ikrimah, Hasan, Qatadah, dan lainnya.
Setelah itu mereka (Bani Israil) mempersulit diri mereka sendiri, mereka menanyakan warnanya, mereka kemudian diperintahkan menyembelih sapi betina berwarna kuning tua sedikit kemerahan, yang menyenangkan bagi orang-orang yang memandang. Sapi betina dengan warna seperti ini jarang ada. Setelah itu mereka semakin mempersulit, “Mereka berkata, 'Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang (sapi betina) itu. (Karena) sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk.”
Disebutkan dalam hadits marfu’ riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih; “Andai saja Bani Israil tidak mengucapkan insya Allah, tentu mereka tidak diberi (petunjuk).” Keshahihan hadits ini perlu dikaji lebih jauh. Wallahu a’lam.
“Dia (Musa) menjawab, ‘Dia (Allah) berfirman, (sapi) itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.’ Mereka berkata, Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.’Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu,” ciri ini sudah lebih dari ciri sebelumnya, karena mereka diperintahkan untuk menyembelih sapi betina yang bukan dzalul, yaitu sapi betina yang bukan digunakan untuk membajak sawah ataupun mengairi tanaman; musallamah, yaitu sehat tanpa memiliki cacat. Demikian disampaikan Abu Aliyah dan Qatadah. Firman-Nya, “Dan tanpa belang,” yaitu tidak ada warna tertentu yang berlainan dengan warna dasarnya. Harus terbebas dari cacat, tidak memiliki belang. Setelah Allah menentukan semua ciri ini, “Mereka berkata, ‘Sekarang barulah engkau menerangkan (hal) yang sebenarnya.”
Menurut salah satu sumber, mereka hanya menemukan sapi dengan ciri seperti ini milik seseorang yang berbakti kepada ayahnya. Mereka meminta sapi itu padanya, tapi ia enggan memberikan sapi itu. Mereka ingin membeli sapi itu dengan emas seberat ukurannya—menurut penuturan As-Suddi—, namun si pemilik tetap enggan menyerahkan sapi itu. Mereka melipatgandakan harganya hingga sepuluh kali. Setelah itu si pemilik baru menyerahkan sapi itu pada mereka.
Nabi Musa kemudian memerintahkan mereka agar menyembelih sapi itu. “Lalu mereka menyembelihnya, dan nyaris mereka tidak melaksanakan (perintah) itu," yaitu mereka ragu terkait masalah ini. Allah kemudian memerintahkan mereka agar memukulkan sebagian dari sapi tersebut kepada si korban pembunuhan. Menurut salah satu pendapat adalah daging paha. Pendapat yang lain menyebutkan, tulang sebelah tulang rawan. Ada juga pendapat yang menyebut, daging di antara kedua pundak. Saat mereka memukulkan sebagian dari sapi itu kepada korban pembunuhan, Allah menghidupkannya. Ia berdiri dengan urat leher mengucurkan darah. Nabi Musa kemudian bertanya kepadanya. “Siapa yang membunuhmu?’ ‘Aku dibunuh keponakanku,’ jawabnya. Ia kemudian mati lagi seperti sedia kala’.”
Allah SWT berfirman, “Demikianlah Allah menghidupkan (orang) yang telah mati, dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaanNya) agar kamu mengerti yaitu sebagaimana kalian menyaksikan korban pembunuhan ini hidup kembali oleh perintah Allah, seperti itu juga perintah-Nya untuk seluruh orang mati. Saat Ia berkehendak menghidupkan mereka semua, semuanya Ia hidupkan seketika itu juga, sebagaimana firman-Nya, “Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja.” (Luqman: 28).*
****
4. Kisah Nabi Musa dan Patung Anak Sapi
Allah SWT berfirman, “Dan kaum Musa, setelah kepergian (Musa ke Gunung Sinai) mereka membuat patung anak sapi yang bertubuh dan dapat melenguh (bersuara) dari perhiasan (emas). Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang zalim. Dan setelah mereka menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa telah sesat, mereka pun berkata, ‘Sungguh, jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi.’ Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?’ Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya. (Harun) berkata, Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikan aku sebagai orang-orangyang zalim.’ Dia (Musa) berdoa. Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang.’ Sesungguhnya, orang-orang yang menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahannya), kelak akan menerima kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebohongan. Dan orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat dan beriman, niscaya setelah itu Rabbmu Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan setelah amarah Musa mereda, diambilnya (kembali) lauh-lauh (Taurat) itu; di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orangyang takut kepada Tuhannya’.” (Al A'raf: 148-154).
Allah SWT berfirman, “Dan mengapa engkau datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa? Dia (Musa) berkata, ‘Itu mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabbku, agar Engkau ridha (kepadaku).’ Dia (Allah) berfirman, ‘Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.’ Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia (Musa) berkata, Wahai kaumku! Bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janjiyang baik? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Rabb menimpamu, mengapa kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?’ Mereka berkata, 'Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami harus membawa beban berat dari perhiasan kaum (Fir'aun) itu, kemudian kami melemparkannya (ke dalam api), dan demikian pula Samiri melemparkannya, kemudian (dari lubang api itu) dia (Samiri) mengeluarkan (patung) anak sapi yang bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata, ‘Inilah Rabbmu dan Tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa.’ Maka tidakkah mereka memerhatikan bahwa (patung anak sapi itu) tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka? Dan sungguh, sebelumnya Harun telah berkata kepada mereka, ‘Wahai kaumku! Sesungguhnya, kamu hanya sekedar diberi cobaan (dengan patung anak sapi) itu dan sungguh, Rabbmu ialah (Allah) Yang Maha Pengasih, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku. ’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak akan meninggalkannya (dan) tetap menyembahnya (patung anak sapi) sampai Musa kembali kepada kami.’ Dia (Musa) berkata, Wahai Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat mereka telah sesat, (sehingga) engkau tidak mengikuti aku? Apakah engkau telah (sengaja) melanggar perintahku?’ Dia (Harun) menjawab, ‘Wahai putra ibuku! Janganlah engkau pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku. Aku sungguh khawatir engkau akan berkata (kepadaku), ‘Engkau telah memecah belah antara Bani Israil dan engkau tidak memelihara amanatku.’ Dia (Musa) berkata, ‘Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) wahai Samiri?’ Dia (Samiri) menjawab, ‘Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, jadi aku ambil segenggam (tanah dari) jejak rasul lalu aku melemparkannya (ke dalam api itu), demikianlah nafsuku membujukku.’ Dia (Musa) berkata, ‘Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku),’. Dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari, dan lihatlah tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut (berserakan). Sungguh, Rabbmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu’.” (Thaha: 83-98).
Allah menuturkan tentang kondisi Bani Israil saat Musa pergi untuk (bermunajat) pada waktu yang telah ditentukan Rabb-nya, lalu ia berada di atas gunung Thur untuk bermunajat kepada Rabb, bertanya sejumlah hal kepada-Nya, dan Allah menjawab semuanya.
Saat itu, seseorang di antara mereka yang bernama Harun As-Samiri mengambil perhiasan-perhiasan yang sebelumnya mereka pinjam (dari orang-orang Qibthi), lalu ia bentuk menjadi patung anak sapi, segenggam tanah diletakkan di dalamnya. Tanah tersebut ia ambil dari jejak kaki kuda malaikat Jibril saat ia melihatnya menenggelamkan Fir’aun. Saat tanah itu dimasukkan ke dalam patung anak sapi, patung mengeluarkan suara seperti lenguhan anak sapi sungguhan. Menurut salah satu pendapat, patung tersebut berubah memiliki tubuh, maksudnya memiliki daging, darah dan hidup, juga bisa melenguh. Demikian dinyatakan Qatadah dan lainnya. Pendapat lain menyebutkan, suara tersebut disebabkan karena adanya angin yang masuk melalui dubur lalu keluar melalui mulut, sehingga terdengar seperti suara lenguhan sapi betina. Bani Israil kemudian menari-nari dan bergembira ria di sekitarnya.
“Maka mereka berkata, 'Inilah Rabbmu dan Tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa.” Yaitu maka Musa melupakan tuhannya di dekat kami, ia kemudian pergi mencari-carinya padahal tuhan itu ada di sini. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan dengan ketinggian sebesar-besarnya, Mahasuci nama-nama dan sifat-sifat-Nya, begitu berlipat nikmat dan karunia-Nya.
Allah SWT berfirman seraya menjelaskan kebatilan langkah yang mereka tempuh, mempertuhankan suatu benda yang tidak lain berupa patung hewan yang tidak dapat berbicara, atau setan yang terkutuk, “Maka tidakkah mereka memerhatikan bahwa (patung anak sapi itu) tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka?” Allah SWT berfirman, “Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al-A’raf: 148).
Allah menyebutkan, hewan tersebut tidak dapat berbicara, tidak bisa menjawab, tidak kuasa menimpakan mara bahaya ataupun manfaat, dan tidak menuntun menuju kebenaran. Mereka menjadikannya sebagai sembahan, dan mereka adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri, mereka sebenarnya tahu bahwa kebodohan dan kesesatan yang mereka lakukan itu keliru belaka. “Dan setelah mereka menyesali perbuatannya," yaitu menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan, “Dan mengetahui bahwa telah sesat, mereka pun berkata, ‘Sungguh, jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi’.”
Musa kemudian menghampiri mereka, mencela dan menegur mereka dengan keras karena tindakan buruk yang mereka lakukan, mereka kemudian menyampaikan alasan tidak benar kepada Musa. Mereka berkata, “Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami harus membawa beban berat dari perhiasan kaum (Fir’aun) itu, kemudian kami melemparkannya (ke dalam api), dan demikian pula Samiri melemparkannya, mereka enggan membawa perhiasan keluarga Fir’aun padahal mereka prajurit, Allah pun memerintah mereka untuk mengambil perhiasan-perhiasan itu dan memperbolehkannya, tetapi mereka tidak enggan untuk menyembah patung anak sapi bertubuh dan bisa melenguh, di samping beribadah kepada Yang Maha Esa, Tunggal, Tempat bergantung segala sesuatu lagi Maha mengalahkan, karena minimnya ilmu dan akal yang mereka miliki.
Setelah itu Musa menghampiri saudaranya dengan mengatakan, “Wahai Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat mereka telah sesat, (sehingga) engkau tidak mengikuti aku?” (Thaha: 92-93). Yaitu, kenapa saat melihat mereka melakukan seperti itu, kau tidak menyusulku lalu memberitahukan kepadaku. Harun berkata, “Aku sungguh khawatir engkau akan berkata (kepadaku), ‘Engkau telah memecah belah antara Bani Israil dan engkau tidak memelihara amanatku’.” (Thaha: 94). Yaitu aku meninggalkan mereka dan kau datang kepadaku, padahal kau telah memerintahkanku untuk memimpin mereka.
“Dia (Musa) berdoa, 'Ya Rabbku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang’.” (Al-A’raf: 151). Harun sebenarnya sudah melarang keras mereka melakukan perbuatan keji ini.
Allah berfirman, “Dan sungguh, sebelumnya Harun telah berkata kepada mereka, Wahai kaumku! Sesungguhnya, kamu hanya sekedar diberi cobaan (dengan patung anak sapi) itu,” yaitu Allah menakdirkan adanya patung anak sapi dan menjadikannya bisa mengeluarkan suara, tidak lain sebagai ujian bagi kalian, “Dan sungguh, Rabbmu ialah (Allah) Yang Maha Pengasih,” bukan patung itu, “Maka ikutilah aku,” ikutilah apa yang aku katakan pada kalian, “Dan taatilah perintahku.’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak akan meninggalkannya (dan) tetap menyembahnya (patung anak sapi) sampai Musa kembali kepada kami.” Allah bersaksi untuk Harun. “Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath: 28). Allah bersaksi bahwa Harun telah melarang mereka melakukan tindakan itu, namun mereka tidak mau menurut ataupun mengikutinya.
Musa kemudian menghampiri Samiri. “Dia (Musa) berkata, ‘Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) wahai Samiri?" yaitu apa mendorongmu melakukan seperti itu. “Dia (Samiri) menjawab, ‘Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui." Yaitu aku melihat Jibril menunggangi kuda, “Jadi aku ambil segenggam (tanah dari) jejak rasul," yaitu jejak kuda Jibril. Sebagian mufassir menyebutkan, Samiri melihat jejak kaki kuda Jibril, setiap kaki kudanya menginjak suatu tempat, tempat tersebut menjadi hijau dan mengeluarkan rerumputan. Samiri kemudian memungut jejak kaki kuda Jibril.
Saat jejak kaki kuda Jibril dimasukkan ke dalam patung anak sapi dari emas, patung sapi tersebut bisa mengeluarkan suara lenguhan. Karena itu Samiri berkata, “Lalu aku melemparkannya (ke dalam api itu), demikianlah nafsuku membujukku.’ Dia (Musa) berkata, ‘Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku)’." Ini doa yang dipanjatkan Musa untuk Samiri agar tidak ada seorang pun menyentuhnya, sebagai hukuman karena dia telah menyentuh sesuatu yang tidak patut disentuh (jejak kaki kuda Jibril). Ini hukuman baginya di dunia. Selanjutnya Musa mengancam siksaan akhirat padanya, Musa berkata, “Dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari.”
“Dan lihatlah tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya.Kami Pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut (berserakan).’’ Musa kemudian menghampiri patung anak sapi itu, lalu membakarnya dengan api—menurut salah satu sumber—seperti yang dikatakan Qatadah dan lainnya. Pendapat lain menyebut dengan pengikir, seperti dikatakan Ibnu Abbas dan lainnya, juga seperti yang disebut dalam teks ahli kitab. Setelah itu Musa menghamburkan abunya di lautan. Musa kemudian memerintahkan Bani Israil minum. Siapa yang pernah menyembah patung anak sapi itu, abu pasti menempel di mulutnya sebagai pertanda. Menurut pendapat lain, (bukan seperti itu), tapi warna kulit mereka menguning.
Allah SWT berfirman seraya mengabarkan tentang Musa, ia berkata kepada Bani Israil, "Sungguh, Rabbmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya, orang-orang yang menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahannya), kelak akan menerima kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebohongan.” (Al-A’raf: 152). Inilah yang terjadi. Sebagian salaf mengatakan, "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebohongan.’’ Amalan ahli bid’ah dicatat untuk pelakunya sampai hari kiamat.
Selanjutnya Allah mengabarkan tentang kesantunan dan rahmat-Nya terhadap makhluk, kebaikan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dengan menerima tobat siapa pun yang mau bertaubat kepada-Nya, "Dan orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat dan beriman, niscaya setelah itu Rabbmu Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al A'raf: 153)
Namun, Allah hanya menerima taubat para penyembah patung berhala dengan cara bunuh diri, seperti yang Allah sampaikan, "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat. Maha Penyayang’.” (Al-Baqarah: 54).
Menurut salah satu sumber, suatu pagi, orang-orang yang tidak menyembah patung anak sapi mengambil pedang, lalu Allah menurunkan kabut yang sangat tebal kepada mereka, hingga mereka tidak bisa mengenali kerabat dekat ataupun keluarganya. Mereka kemudian menghampiri para penyembah berhala patung anak sapi, mereka bunuh dan mereka buru. Ada yang menyatakan, dalam pagi hari saja, ada 70.000 orang yang terbunuh.
Selanjutnya Allah berfirman, “Dan setelah amarah Musa mereda, diambilnya (kembali) lauh-lauh (Taurat) itu; di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya” (Al A'raf: 154).
“Di dalam tulisannya,” oleh sebagian mufassir dijadikan dalil bahwa lauh-lauh ini pecah. Kesimpulan dalil ini perlu dikaji lebih jauh, karena secara tekstual tidak ada yang menunjukkan bahwa lauh-lauh tersebut pecah. Wallahu a’lam.
Ibnu Abbas menyebutkan dalam kisah berbagai ujian berat yang menimpa Musa, seperti yang akan disebutkan selanjutnya, bahwa penyembahan patung anak sapi ini dilakukan setelah Bani Israil keluar dari lautan. Ini tidaklah mustahil, karena setelah keluar dari lautan, mereka berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)” (Al A’raf: 138). Seperti itulah versi ahli kitab, mereka menyembah patung anak sapi sebelum mereka tiba di Baitul Maqdis, karena saat mereka diperintahkan untuk membunuh para penyembah patung anak sapi, pada hari pertama, mereka membunuh 3.000 orang. Setelah itu, Musa memohonkan ampunan untuk mereka. Allah mengampuni mereka dengan syarat mereka harus memasuki Baitul Maqdis (Palestina).
“Dan Musa memilih 70 orang dari kaumnya untuk (memohon taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata. Ya Rabbku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik.’ Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.’ (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung’.” (Al-A’raf: 155-157).
As-Suddi, Ibnu Abbas, dan lainnya menyebutkan, 70 orang ini adalah ulama Bani Israil, mereka disertai Musa, Harun, Yusya’, Nadzab, dan Abihu. Mereka pergi bersama Musa untuk memintakan ampunan bagi Bani Israil karena di antara mereka telah menyembah patung anak sapi. Sebelum pergi, mereka diperintahkan untuk mengenakan wewangian, membersihkan badan, dan mandi. Saat mereka pergi bersama Musa dan mendekati gunung Thur, gunung diliputi awan hitam, di sana ada semacam tiang cahaya yang amat terang, Musa kemudian naik ke atas gunung.
Musa mendekat dan memasuki awan. Musa kemudian berkata kepada mereka, “Mari mendekat!” Saat Musa diajak berbicara dengan Allah, di hadapannya ada cahaya yang memancarkan sinar terang, tak seorang manusia pun mampu menatapnya, kemudian tertutup tabir. Mereka kemudian memasuki awan, lalu mereka bersungkur sujud. Mereka mendekat pada firman Allah, kala Ia berbicara dengan Musa menyampaikan perintah dan larangan. Seusai menyampaikan perintah dan larangan, dan awan yang menyelimuti Musa lenyap, Musa menghampiri mereka lalu mereka berkata, “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.”
Mereka kemudian tersambar halilintar hingga melenyapkan nyawa mereka semua. Musa kemudian berdiri memohon dan berdoa kepada Rabb, ia mengucapkan, “Ya Rabbku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini.” Yaitu, janganlah Engkau menghukum kami karena kesalahan yang dilakukan orang-orang bodoh di antara kami yang menyembah patung anak sapi, karena kami tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.
Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Juraij mengatakan, “Mereka tersambar petir karena tidak melarang kaum mereka menyembah patung anak sapi.”*
*****
FAKTA ILMIAH :
Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai pangan manusia. Hasil sampingannya seperti kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Di sejumlah tempat, sapi juga dipakai sebagai penggerak alat transportasi, pengolahan lahan tanam (bajak), dan alat industri lain (seperti peremas tebu). Karena banyak kegunaan ini, sapi telah menjadi bagian dari berbagai kebudayaan manusia sejak lama.
Kebanyakan sapi ternak merupakan keturunan dari jenis liar yang dikenal sebagai aurochs (dalam bahasa Jerman berarti "sapi kuno", nama ilmiah: Bos primigenius), yang sudah punah di Eropa sejak 1627. Namun, terdapat beberapa spesies sapi liar lain yang keturunannya didomestikasi, termasuk sapi bali yang juga diternakkan di Indonesia.
Awalnya, sapi diidentifikasi sebagai tiga spesies terpisah: Bos taurus (Sapi Eropa), Bos indicus (zebu), dan Bos primigenius (aurochs) yang telah punah. Seiring berjalannya waktu, ilmuwan mengalami perbedaan pendapat. Mereka menganggap Bos taurus dan Bos indicus (keduanya adalah sapi domestik yang ada saat ini) merupakan subspesies dalam spesies yang sama. Beberapa ilmuwan kemudian berpendapat bahwa aurochs dan sapi domestik masih tergolong satu spesies. Sistem Informasi Taksonomi Terpadu (ITIS) mengklasifikasikan sapi dalam spesies Bos taurus yang terdiri atas tiga subspesies: Bos taurus primigenius, Bos taurus taurus, dan Bos taurus indicus.
Sebagaimana hewan lainnya, sapi juga terdiri atas berbagai macam ras. Di antara ratusan ras, sapi friesian-holstein merupakan ras sapi yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia, yaitu di 128 negara. Suatu ras dapat terbentuk secara alami maupun campur tangan manusia sehingga terbentuk ras campuran. Teknologi seperti inseminasi buatan dan fertilisasi in vitro memungkinkan manusia untuk memperoleh kombinasi ras sapi sesuai dengan yang diinginkan. Transfer embrio pada sapi dilakukan dengan memindahkan sel telur yang telah dibuahi dari sapi dengan karakter unggul kepada sapi betina lain untuk dirawat dalam kandungan dan dilahirkan. Metode ini membuat ras sapi tertentu dapat dihasilkan dalam jumlah besar dengan waktu yang singkat.
Sapi merupakan mamalia berkaki empat dengan tapak belah. Kebanyakan sapi memiliki tanduk. Walaupun demikian, seleksi genetik telah membuat sapi tanpa tanduk tersebar di mana-mana.
Sebagai hewan ruminansia, sapi memakan dan mencerna tumbuhan melalui fermentasi dalam sistem pencernaannya. Lambung sapi terdiri atas empat ruangan, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. Pakan yang telah difermentasi dalam rumen kemudian diregurgitasi (dikembalikan ke mulut) untuk dikunyah lagi. Proses pengunyahan kembali inilah yang disebut ruminasi.
Selain kawin secara alami, pada sapi juga dilakukan inseminasi buatan (IB) untuk pemuliaan hewan. IB dilakukan dengan menempatkan semen dari sapi jantan ke dalam rahim sapi betina pada masa estrus. Masa kebuntingan pada sapi berlangsung sekitar 9 bulan. Terkadang, terjadi kesulitan melahirkan yang disebut distokia. Di beberapa daerah di Indonesia, anak sapi yang baru lahir disebut pedet. Secara alami, pedet akan menyusu selama 7-8 bulan sebelum disapih.
Manusia memelihara sapi untuk mengambil produknya dan menggunakan tenaganya. Berdasarkan manfaat yang diambil, sapi peliharaan dapat digolongkan menjadi sapi potong, sapi perah, dan sapi pekerja. Biasanya, ras sapi tertentu cenderung dimanfaatkan untuk hal tertentu, misalnya sapi limousin merupakan sapi pedaging sedangkan sapi holstein merupakan sapi perah. Selain daging dan susu, bagian tubuh sapi yang bernilai ekonomis yaitu kulit, tanduk, dan tinjanya.
Peternakan sapi dapat dilakukan secara ekstensif (di luar) maupun intensif (di kandang). Pada peternakan ekstensif, sapi dibiarkan berkeliaran di lahan penggembalaan; sedangkan pada peternakan intensif, sapi dipelihara dalam kandang dan semua kebutuhannya disediakan oleh manusia. Peternakan intensif yang dilakukan untuk kebutuhan industri disebut peternakan pabrik. Sistem pemeliharaan ekstensif dan intensif dapat dikombinasikan, misalnya pada peternakan keluarga yang sapi-sapinya kadang dibiarkan mencari makan sendiri dan kadang diberikan pakan yang telah disiapkan. Sistem campuran ini disebut peternakan semi-intensif.*
*****
DIALOG IMAN :
(Lihat Majalah BILAL edisi 15)
SAPI, Hewan Ternak yang Istimewa dan Banyak Manfaat
Hewan ciptaan Allah yang akan kita cermati kali ini adalah sapi. Sapi merupakan salah satu hewan mamalia yang sangat banyak manfaatnya bagi manusia.
Walaupun tubuhnya besar, ternyata sapi hewan vertebrata atau pemakan tumbuhan. Ia hanya butuh rumput dan daun untuk makanannya. MasyaAllah.
Hampir semua dari bagian tubuh dari sapi, dapat dimanfaatkan oleh manusia. Seperti dagingnya, yang bisa dimasak menjadi banyak menu masakan yang lezat. Kemudian susunya yang nikmat. Di dalam susunya terdapat kandungan nutrisi yang bergizi, sehingga akan sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Tidak hanya itu, bahkan kulit, jeroan, tanduk dan kotorannya pun dimanfaatkan oleh manusia.
Sapi merupakan hewan yang istimewa. Allah Ta'ala mengabadikannya menjadi salah satu nama surat di dalam Al-Quran. Coba kalian sebutkan, surat apakah itu? Ya, surat Al-Baqarah yang artinya sapi betina.
Salah satu mukjizat Al Quran adalah isinya menjadi petunjuk bagi manusia sepanjang zaman. Bukan hanya untuk orang-orang yang hidup di zaman dahulu saja, namun hingga sekarang dan akhir zaman nanti.
Teman-teman yuk, kita buka mushaf Al-Quran dan baca surat Al-Baqarah ayat 67 sampai 73. Kemudian bacalah terjemahannya. Kalian akan menemukan kisah seru dan penuh hikmah di dalamnya. Pastinya kisah ini bukan dongeng atau cerita khayalan saja. Kisah yang Allah Ta'ala ceritakan ini adalah kisah nyata, yang dahulu pernah terjadi. Kisah ini terjadi pada zaman nabi Musa ‘alaihissalam.
Pada saat itu, ada seorang kaum Bani Israil yang meninggal dengan tidak wajar. Namun tidak ada yang tahu apa yang menjadi penyebab kematiannya.
Nabi Musa meminta kaumnya, untuk mencari seekor sapi betina untuk disembelih. Hal itu dilakukan atas perintah Allah Ta'ala.
Namun, kaum Bani Israil tidak langsung memenuhi perintah nabinya. Mereka enggan, bahkan menuduh nabi Musa telah mengejek mereka.
"...Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata:”Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan…?.” (Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 67)
”… Musa menjawab:’Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil.’” (Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 67)
Mereka mencari-cari banyak alasan sebelum melaksanakannya. Mereka bertanya tentang ciri-ciri sapi yang dimaksudkan untuk disembelih.
Mereka berkata: ”Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk.” (Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 70)
Padahal pada awalnya Allah Ta'ala memudahkan mereka. Allah tidak menyebutkan syarat khusus tentang sapi yang akan disembelih. Namun karena sifat 'ngeyel' Bani Israil, mereka mempersulit diri mereka sendiri. Hingga akhirnya Allah Ta'ala memberikan syarat-syarat yang sulit. Allah Ta'ala menyebutkan ciri-ciri khusus pada sapi yang harus mereka sembelih.
”Musa berkata:’Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, …” (Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 71)
Subhanallah, sungguh hikmah yang luar biasa ya teman-teman. Pelajaran yang bisa kita ambil agar kita tidak 'ngeyel' alias suka mencari-cari alasan. Jika kita mendengar perintah Allah maka sami'na wa atha'na, kami dengar dan kami taat. Karena sesungguhnya semua perintah Allah adalah kebaikan untuk kita.*